situs berita dan informasi online
  Cari Berita :  
 
mobi pascabayar
ARTIKEL DARI PEMBACA
 
Opini :: Rabu, 01/02/2012 [13:49:26]
Sekedar
Cerita dari Cerita
catatan ini di amil dari fb milik temanku yang sangat baik, bahkan saya menganggap dia bagian dari keluarga saya. mari kita simak ‎"awas...!!" kata spontan yang terlontar kencang dari mulut... oleh imam elhazmi di Pandeglang
 
 
News :: Rabu, 01/02/2012 [11:36:02]
LIBURAN
Pandeeglang Berkah, Unsera Cerdas
News :: Senin, 30/01/2012 [03:29:33]
Peduli Bencana
Mahasiswa Komunikasi Unsera Peduli
Pengaduan :: Senin, 30/01/2012 [03:09:10]
Surat terbuka
Untukmu Siska Selvia
Opini :: Sabtu, 28/01/2012 [06:24:12]
Pencabutan Perda Anti-Miras Perlu Ditinjau
News :: Senin, 23/01/2012 [18:21:20]
Rekonsiliasi IPMADO Untuk Perubahan
Generasi Muda Harus Mampu Membawa Perubahan
Lowongan Perwakilan Biro Radar
  oleh : redaksi radar, Jakarta
  Radar.co.id membuka lowongan untuk perwakilan Biro diseluruh Indonesia, dengan syarat : a. Penga...
   
JUAL RUMAH DILEMBAH APARTEMEN
  oleh : d triarso, JAKARTA PUSAT
  DIJUAL : Bekas Rumah Dinas dilembah / dikelilingi Apartemen Kemayoran. LT/LB 171/110, 2 KT, 1 Gudg,...
   
DELL A840 Vostro
  oleh : win, Jakarta
  Jual males make, DELL VOSTRO A840 dual core 1,86GB, HDD 120GB, RAM 3GB, VGA X3100 350MB, WIFI, Bluet...
   
update smart v2 cuma 165rb
 
 
koran-radar.com Opini berita
 
 
 
     
 
Sabtu, 07/03/2009 [00:24:09]
 
  Mahasiswa dan Unjuk Rasa  
  ATURAN UNJUK RASA: PEMBUNUHAN KARAKTER MAHASISWA?  
  ditulis oleh David di Jakarta  
     
  Unjuk rasa seakan merupakan nama tengah mahasiswa beberapa tahun belakang ini. Kiprah Sumpah Pemuda kembali melecut seiring dengan semakin banyaknya aksi protes yang dilakukan dalam bentuk orasi dan demonstrasi.
Seringkali mahasiswa dalam memainkan perannya sebagai agen perubahan tersorot dalam lensa kamera sedang melakukan aksi propaganda, kampanye hingga teror sarat tendesi dalam menentang otoritas ‘pihak-pihak’ tertentu yang berkuasa di pemerintahan dan yang memiliki andil besar dalam penggalangan dana kampanye partai politik.
Mahasiswa memang sudah tidak hanya mengandalkan strategi ilmiah sebagai landasan hakiki perjuangan dan pemecahan persoalan bangsa. Jiwa kontraproduktif dan solid telah berkembang menjadi identitas baru di era globalisasi dan teknologi canggih. Tidak banyak lagi yang menyepelekan arti kata ‘turun ke jalan’ dan menganggapnya sekedar langkah klasik yang menelurkan baku hantam antara mahasiswa dan personel keamanan. Unjuk rasa lebih berdefinisi sebagai langkah konkret generasi muda dalam menyetir langsung bangsa ini.
Demonstrasi yang marak dilakukan oleh sekelompok mahasiswa sesaat setelah momentum pengesahan undang-undang Badan Hukum Peradilan seakan menegaskan eksistensi mahasiswa di kancah perpolitikan Indonesia. Seakan ingin mengejar pamor, beberapa kaum demonstran calon cendikiawan bangsa ini turut hadir pula dalam beberapa program acara di stasiun televisi kenamaan untuk memberikan narasi investigasi yang berbalut argumentasi.
Namun, di balik semua itu, sudah tercermin jelas bahwa mahasiswa masa kini terlihat lebih arogan dan tidak apatis. Taring semangat muda kembali memasuki singasana, memberikan ultimatum kepada yang berkuasa untuk berpikir dua kali sebelum bertindak.
Aksi para mahasiswa dan pemuda lainnya di berbagai tempat di seluruh pelosok Indonesia beberapa pekan lalu sukses mengundang simpati berikut empati warga sipil. Protes yang dikumendangkan berkembang menjadi doktrin dan dasar pemikiran bagi beberapa warga. Terbukti, beberapa menunda waktu pengesahan perubahan status secara resmi.
Tindakan mahasiswa melalui program unjuk rasa juga menuai perhatian lebih dari para kuli tinta dan lampu sorot. Tidak henti-hentinya selama hampir sepekan, pergerakan mahasiswa dalam mengemban amanah bangsa menjadi topik utama di beberapa koran ibukota dan program televisi serta siaran berita.
Terror pun semakin menjadi-jadi dan menghambat laju pergerakan sang penguasa dalam menjalankan visi dan misinya. Mahasiswa kembali menjadi ancaman dan masuk ke dalam daftar kalangan-kalangan yang patut diwaspadai.
Takut menjadi batu penghalang, pemerintah berencana akan memperketat aturan main untuk melakukan aksi unjuk rasa. Tindakan ini bagai aksi proteksi atas ‘aset’ penguasa dari tuntutan rakyat yang sepintas terwakili oleh mahasiswa sekaligus marjinalisasi pergerakan atraktif mahasiswa.
Seharusnya pemerintah lebih banyak belajar lagi dari semangat dan keberanian mahasiswa dalam meneruskan estafet perjuangan bangsa saat tragedi tumbangnya rezim Soeharto tahun 1998, termasuk rentetan periode perjuangan politik mahasiswa lainnya yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah kebangkitan bangsa.
Sesungguhnya unjuk rasa merupakan buah yang harus dinikmati dari pola hidup demokrasi. Suara mahasiswa ialah saran dan kritik bagi pembangunan bangsa dan negara. Saat ini Amerika tengah berbangga dipinang oleh darah muda keturunan Afrika bernama Barrack Obama, mengapa Indonesia justru terlihat getir saat mahasiswa berunjuk rasa?
Sudah sepatutnya mahasiswa bergerak di kancah perpolitikan, asalkan sesuai dengan porsinya sebagai moral force, bukan dengan aturan yang kian diperketat yang justru dapat membelenggu kreativitas mahasiswa dalam berintegrasi untuk mengakomodasi kebutuhan akselelator negeri.

 
     
 
mark-it indonesia
 
     
 
Anda ingin memasang banner? hubungi kami di : 021 - 6833 5800
 
 
   
BERITA SEBELUMNYA...
 
Menpora & Presiden Digugat Pengacara
Waspadai Makanan Penyebab Jerawat!
Samsat Depok Santuni Puluhan Anak Yatim
Pejabat Depok Tes Urine
LSM LAKI Apresiasi Kapolda Kalbar Berantas Korupsi
 
     
 
Redaksi : Jl Jatinegara Barat No.181A Lt.3, Jakarta Timur 13310 - Phone 021 - 68335800 / Fax : 021-2800366
© 2010 radar.co.id . Gunakan browser dengan dukungan flash & java ketika mengunjungi web ini. Powered by MDevelopment v3.0