|
|
 |
|
 |
|
|
Lowongan Perwakilan Biro Radar |
| |
oleh : redaksi radar, Jakarta |
| |
Radar.co.id membuka lowongan untuk perwakilan Biro diseluruh Indonesia, dengan syarat :
a. Penga... |
| |
|
|
JUAL RUMAH DILEMBAH APARTEMEN |
| |
oleh : d triarso, JAKARTA PUSAT |
| |
DIJUAL :
Bekas Rumah Dinas dilembah / dikelilingi Apartemen Kemayoran. LT/LB 171/110, 2 KT, 1 Gudg,... |
| |
|
|
DELL A840 Vostro |
| |
oleh : win, Jakarta |
| |
Jual males make, DELL VOSTRO A840 dual core 1,86GB, HDD 120GB, RAM 3GB, VGA X3100 350MB, WIFI, Bluet... |
| |
|
|
|
 |
|
 |
|
|
 |
 |
 |
| |
koran-radar.com HOT berita |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
Senin, 02/03/2009 [10:42:13] |
|
| |
Bursa Koalisi Partai Menengah |
|
| |
rolles [Jakarta] |
|
| |
|
|
| |
Keterangan Gambar : SBY dan JK |
|
| |
Jakarta, KR Online
Duet Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) segera berakhir. Setelah lima tahun bersama sebagai pasangan presiden dan wakil presiden, mahligai kebersamaan mereka sulit dipertahankan pada pemilihan umum yang akan datang. Padahal, menurut banyak survei politik, sebelumnya SBY-JK dianggap memiliki peluang paling besar sebagai pasangan capres-cawapres.Duet incumbent itu akan menjadi rintangan terbesar bagi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, yang tengah memilih-milih calon wakil yang pas. Namun harmoni keduanya kandas. Jumat pekan lalu, JK mengumumkan kesiapannya menjadi calon presiden dari Partai Golkar, yang secara otomatis menganulir kesiapannya menjadi cawapres bersanding dengan SBY.
Untuk menegaskan sikapnya itu, JK menggelar jumpa pers di Kantor Wakil Presiden, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta. "Sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar, saya tidak bisa berbicara lain selain dari apa yang diinginkan dan diputuskan dari bawah (sebagai capres --Red.). Akan tetapi, ini tentu sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan Partai Golkar," katanya.
Pecah kongsi calon unggulan itu membuat peta politik nasional berubah. Sebelumnya, aliansi Golkar-Demokrat dinilai hanya bisa dilawan dengan koalisi raksasa. Namun, bila JK maju sendiri, koalisi dua partai itu akan porak-poranda. Dengan demikian, setidaknya ada tiga calon presiden yang di-back up partai dengan kekuatan yang hampir sama.
Dalam pemilihan umum lalu, baik PDIP, Demokrat, maupun Golkar tidak memiliki suara dominan, sehingga perolehannya tidak terpaut banyak. Dengan demikian, partai menengah yang semula kurang signifikan sebagai penentu kemenangan menjadi penting untuk diajak berkoalisi.
Menurut Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI), Saiful Mujani, fakta lepasnya JK dari SBY membuat partai kecil yang perolehannya 5% menjadi berarti. "Ibaratnya, partai kecil yang tadinya duduk di kegelapan tiba-tiba ada lilin menyala," ujarnya.
Apabila yang maju sebagai calon presiden hanya Megawati dan SBY, maka tidak semua partai politik akan ikut dalam koalisi. Golkar-Demokrat, yang masing-masing diperkirakan mendulang suara pada kisaran 20%, akan stabil. Sedangkan PDIP dengan peroleh 18% cukup berkoalisi dengan satu atau dua partai menengah.
Namun, kalau masing-masing dari ketiga partai itu mengajukan calon sendiri, mereka wajib mengoleksi dukungan dari partai menengah sampai partai kecil. Ke depan, akan ada banyak pilihan partai dengan perolehan 3%-10% suara, sehingga bursa koalisi bakal makin ramai.
Dari sekian partai papan tengah, yang dinilai paling signifikan mengubah situasi adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dengan mesin partai yang bandel dan massa yang dikenal solid, PKS dianggap menjadi alternatif koalisi paling prospektif. Hancurnya kebersamaan SBY-JK membuat PKS sangat diuntungkan karena daya tawarnya menjadi sangat tinggi bagi calon presiden mana pun.
Dengan posisinya sebagai penentu, PKS dengan mudah bisa menempatkan kadernya sebagai kandidat calon presiden atau wakil presiden. Kini Hidayat Nurwahid, unggulan dari PKS, menjadi primadona calon wapres yang diincar calon presiden. Tak terkecuali JK.
Menurut informasi yang diperoleh Gatra, Kamis ini JK menjadwalkan pertemuan dengan Ketua Umum DPP PKS, Tifatul Sembiring. Keduanya akan melakukan "komunikasi politik" pada tingkat awal. Sejak semula, PKS bersikap mendukung duet SBY-JK.
Namun, dengan perkembangan terbaru, partai ini menyiapkan rencana lain, meskipun baru akan dipublikasikan setelah pemilu legislatif. Sekretaris Jenderal DPP PKS Anis Matta mengungkapkan, partainya menyambut baik kesiapan JK yang akan mencalonkan diri sebagai capres. Untuk itu, muncul wacana menyandingkannya dengan Hidayat Nurwahid.
Duet JK-Hidayat, kata Anis, menjadi perpaduan yang ideal. Alasannya, keduanya merupakan tokoh yang merepresentasikan kekuatan Jawa dan luar Jawa, dari partai nasionalis dan partai Islam. Selain itu, "JK cerdik, cekatan, egaliter, dan rendah hati. Klop dengan Hidayat Nurwahid yang berintegritas tinggi, lurus, dan tidak berlatar belakang ekonomi atau bisnis," ujarnya.
Selain PKS, partai lawas yang menarik untuk digaet adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Kebangkitan bangsa (PKB). PPP tampaknya lebih condong ke SBY. Sebelumnya, Ketua Majelis Pertimbangan Partai PPP, Bachtiar Chamsyah, secara verbal menyatakan dukungannya kepada SBY. Ia bahkan menggagas koalisi antara PPP, Demokrat, dan PKB sebelum pemilu.
Meski pemikiran itu tampaknya mewakili arus besar di PPP, sebetulnya tidak begitu solid. Ketua Umum PPP, Suryadharma Ali, malah membuat "Forum PPP Mendengar" yang banyak diterjemahkan sebagai dukungan kepada PDIP, karena acara itu dihadiri Megawati. Alhasil, PPP tampaknya masih bisa digoyang.
Partai lain yang mungkin cukup mewarnai adalah Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Partai ini semula mencalonkan Wiranto sebagai RI-1. Namun perkembangan terakhir makin berat setelah Mahkamah Konstitusi menolak membatalkan ketentuan calon presiden harus bermodal 20% kursi parlemen atau 25% suara.
Tidak tertutup kemungkinan, Wiranto akan merapat ke Megawati. Mengingat, belakangan ini muncul wacana duet BMW (Bu Mega-Wiranto). Apalagi, beberapa waktu lalu, sebuah survei mengunggulkan duet Mega-Wiranto. Meski begitu, Wiranto juga punya peluang untuk berduet dengan Jusuf Kalla.
Peluang koalisi itu diakui Sekretaris Jenderal Partai Hanura, Yus Usman Sumanegara. "Itu bisa terjadi. Apalagi dengan Golkar, Pak Wiranto memiliki hubungan emosional dan historis," katanya kepada Ahmad Alfajri dari Gatra. Peluang itu bisa makin besar karena, menurut dia, masih banyak kader Golkar yang loyal kepada Wiranto.
Yang juga akan sengit diperebutkan adalah PAN, yang sikapnya masih jadi misteri. Ketua Umum PAN, Soetrisno Bachir, belum melihat pentingnya mengambil sikap sekarang. "Kemarin bilang pecah kongsi, besoknya ketemu di Cikeas. Jadi, nggak usah direspons secara berlebihan," kata Soetrisno.
Yang jelas, katanya, anatominya nanti bakal mudah dilihat. Yang menjadi penentu kira-kira sembilan partai terbesar hasil pemilu putaran pertama. Dari sembilan partai itu, akan terjadi koalisi-koalisi. "Ini akan sangat cair, bergantung juga pada figur," ujar Soetrisno kepada wartawan Gatra Sukmono Fajar Turido.
Dari sekian partai menengah, yang paling kurang siap menyongsong peta koalisi adalah PKB. Sejauh ini, partai yang dipimpin Muhaimin Iskandar itu masih disibukkan dengan masalah-masalah internal yang dihadapi. Hal ini membuat PKB kalah start dalam melakukan silaturahmi politik dibandingkan dengan partai lain.
Sejauh ini, nama calon presiden yang pernah diwacanakan adalah Muhaimin Iskandar. Namun itu tidak lebih dari sekadar pemanis bibir. Nyatanya, PKB belum menjalankan mesin partainya untuk menggarap calon presiden atau wakil presiden. Pada saat ini, kecil kemungkinan partai-partai akan mengikat kesepakatan sebelum pemilu legislatif. (Tmn/Gatra)
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
Anda ingin memasang banner? hubungi kami di : 021 - 6833 5800 |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
|