|
|
 |
 |
 |
| |
koran-radar.com HOT berita |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
Senin, 16/03/2009 [10:55:19] |
|
| |
Politik Lima Pintu Partai Tengah |
|
| |
Rolles Herwin S, S.Kom [Jakarta] |
|
| |
|
|
| |
Keterangan Gambar : Mega Wati dan Jusuf Kalla |
|
| |
Majunya Muhammad Jusuf Kalla (JK) dalam bursa calon presiden membuat posisi tawar Sri Sultan Hamengku Buwono X menyusut. Taufiq Kiemas, yang sebelumnya bersemangat menduetkan Sultan dengan Megawati Soekarnoputri, belakangan berhitung lagi. Bila Sultan tidak didukung Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan berpikir ulang dan mencari opsi pasangan lain.Sebelumnya, Sultan amat diperhitungkan dalam bursa calon wakil presiden (cawapres). Dalam banyak survei setahun terakhir, dialah tokoh Golkar paling tinggi elektabilitasnya. Sultan sering menduduki posisi ketiga setelah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati.
Dengan majunya JK, yang disusul gerakan sigap konsolidasi di dua basis utama Golkar, Sulawesi Selatan dan Jawa Barat, sepekan terakhir, peluang dukungan Golkar kepada Sultan makin ciut. Limbungnya peluang Sultan di dua patai politik (parpol) papan atas, PDIP dan Golkar, membuka peluang salah satu partai papan tengah, PKB, memainkan posisi tawar.
Peraih suara ketiga dalam Pemilu 2004 yang sepanjang lima tahun terakhir terbelit konflik internal itu mengembangkan opsi mengajukan Sultan sebagai calon presiden (capres) bersanding dengan Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB. Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada pertengahan Februari, yang dilansir Jumat pekan lalu, memberi kepercayaan diri baru kepada PKB setelah sekian kali diprediksi bakal terpuruk.
Versi LSI, meski menyusut separuh dibandingkan dengan Pemilu 2004, PKB masih seimbang dengan beberapa partai tengah lainnya: PKS, PPP, PAN, dan pendatang baru, Gerindra. Menurut Saiful Mujani, Direktur Eksekutif LSI, pecahnya kongsi SBY-JK menaikkan nilai tawar partai-partai tengah. Khususnya sebagai mitra koalisi dan pemasok figur cawapres.
Pekan lalu, beberapa hari setelah JK siap maju, partai tengah yang menjadi bintang dan terlihat berusaha memainkan momentum adalah PKS. JK memenuhi undangan PKS, sehingga menggelembungkan wacana koalisi. Pada saat yang sama, PKS masih "buka warung" untuk elite lain, dengan mengumumkan juga akan mengundang SBY dan Mega.
PKS beruntung punya figur yang laik jual di papan tengah: Hidayat Nurwahid. Dalam banyak survei, Hidayat bersaing ketat dengan Sultan dan Prabowo yang pamornya juga menanjak. Hidayat punya keunggulan dibandingkan dengan Sultan dan Prabowo dari segi tersedianya dukungan partai yang solid.
PKB rupanya tidak mau ketinggalan permainan. Panggung politik tidak boleh hanya dinikmati PKS. Apalagi, ketika masih solid bersama Gus Dur, dalam dua pemilu sebelumnya, 2004 dan 1999, PKB pernah menempati posisi politik papan tengah yang sangat diperhitungkan partai-partai besar.
Peran itu belakangan surut seiring dengan konflik akut di PKB. Muhaimin dan orang sekitarnya, seperti Lukman Edy (sekjen) dan Helmy Faishal (Ketua PKB Jawa Barat), mencoba menghidupkan kembali peran lama itu, dengan memainkan duet Sultan-Muhaimin.
"Paket Sultan dan Cak Imin sedang menjadi pembicaraan serius di tubuh PKB," kata Lukman Edy. "Bagi publik, kami yakin, paket ini menawarkan alternatif baru yang lebih segar," Lukman menambahkan. Ia berharap, Sultan juga bekerja keras agar partai pendukungnya, Republikan, bisa lolos ambang batas parlemen 2,5% suara nasional.
Selain menduetkan Muhaimin dengan Sultan, PKB juga membuka opsi menyandingkan Muhaimin dengan SBY. Lukman menyatakan, PKB punya nyali bersaing dengan Hidayat untuk menjadi cawapresnya SBY.
Menurut Lukman, di antara parpol lain yang punya menteri di kabinet, PKB tidak pernah tercatat konfrontatif dengan SBY. Berbeda dari PPP yang belakangan memanaskan relasi dengan Demokrat. Begitu pula PKS yang kerap mengkritik pedas pemerintah. Sampai-sampai mengundang reaksi agar PKS dan PPP menarik menterinya dari kabinet.
Meski optimistis bisa menjadi wapres yang kontributif, kedua parpol itu tak mau jual murah. Mereka juga mengumbar nyali bahwa bila perolehan suaranya signifikan, bukan mustahil akan mengajukan kader sendiri sebagai capres. Hidayat pernah mengungkapkan kerisauannya ketika berkali-kali disanjung sebagai cawapres paling kuat. Hidayat merasa telah divonis bahwa tempatnya hanya RI-2. Padahal, ia merasa punya kans menjadi RI-1.
Pasca-kedatangan JK ke PKS, Sekjen PKS Anis Mata melansir analisis yang menggiring opini bahwa paket JK-Hidayat bukan opsi final. Kepada Ahmad Alfajri dari Gatra, Anis mengatakan, PKS tidak yakin Golkar akan mengajukan JK sebagai capres. PKS malah menduga, JK bakal kembali kepada SBY. Maka, PKS pun masih membuka opsi berduet dengan selain JK, termasuk SBY, mempertimbangkan popularitasnya yang melambung.
Sikap lebih lugas mengisyaratkan jual mahal dikemukakan PAN. "Kami tidak pernah berpikir menjadi partai rental," kata Soetrisno Bachir, Ketua Umum PAN, kepada Sukmono Fajar Turino dari Gatra. "Yaitu partai yang mengusung calon presiden dan wakil presiden dari partai lain. Terpikir saja tidak," ujar Soetrisno.
"Kami belum terpikir mengusung calon presiden dan wakil presiden. Itulah cara kami melaksanakan pikiran dengan kerja keras per dapil, bukan kerja wacana," Soetrisno menambahkan. Ia memprediksi, partai yang bakal lolos ke parlemen hanya sembilan.
Dipastikan bakal terjadi koalisi-koalisi. PAN mengisyaratkan akan lebih berkoalisi dengan partai menengah ketimbang dengan Demokrat dan SBY. "Bagaimana akan berkoalisi dengan Demokrat, karena SBY sudah dipatok sebagai capres," katanya. "Kemungkinannya dengan yang lainnya, yang partainya kira-kira kecil dan mau jadi wapres. Tapi tergantung kondisinya juga."
PPP memainkan manuver berbeda lagi. Emron Pangkapi, Ketua DPP PPP, belakangan sering mengungkapkan kekecewaannya berkoalisi dengan Demokrat. Memang ada dinamika internal yang membuat Emron yang dikenal sekubu dengan Ketua Umum PPP, Suryadharma Ali, lebih kritis kepada SBY. Karena kubu Bachtiar Chamsyah, Ketua Majelis Pertimbangan PPP, yang berseberangan dengan Surya, sudah lama menopang SBY.
PPP, kata Emron, lebih banyak menjajaki hubungan baru dengan Golkar, PDIP, dan PKS. Sikap Bachtiar Chamsyah dikatakan tidak mencerminkan sikap PPP. Emron mengatakan, pernyataan Bachtiar itu dalam kapasitas sebagai Ketua Parmusi. "Pak Bachtiar itu Ketua Parmusi, dan Parmusi memang mendukung SBY sejak 2004," ujarnya.
Direktur Riset LSI Dodi Ambardi menyebut manuver parpol papan tengah itu sebagai bagian cara menaikkan posisi tawar. "Mereka lebih menempuh cara membuka pintu lebar-lebar. Kalau perlu, lima pintu sekaligus supaya tidak tertinggal dalam permainan. Kalau diam, tidak akan diperhitungkan," katanya. Karena itu, semua opsi koalisi dan usungan paket capres-cawapres hanya bersifat tawaran tentatif dan selalu ditutup dengan kalimat kunci: menunggu hasil pemilu legislatif.
Politik "lima pintu" itu dilakukan karena mempertimbangkan dua hal. Pertama, untuk meningkatkan posisi tawar. Kedua, untuk mengantisipasi bila hasil pemilu legislatif tidak seperti yang mereka hitung. Dengan membuka banyak pintu, apa pun hasil pemilu legislatif, akan tersedia lebih banyak opsi strategi lanjutan. (Tmn/Gtr)
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
Anda ingin memasang banner? hubungi kami di : 021 - 8306 765 |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
|