|
|
 |
|
 |
|
|
Lowongan Perwakilan Biro Radar |
| |
oleh : redaksi radar, Jakarta |
| |
Radar.co.id membuka lowongan untuk perwakilan Biro diseluruh Indonesia, dengan syarat :
a. Penga... |
| |
|
|
JUAL RUMAH DILEMBAH APARTEMEN |
| |
oleh : d triarso, JAKARTA PUSAT |
| |
DIJUAL :
Bekas Rumah Dinas dilembah / dikelilingi Apartemen Kemayoran. LT/LB 171/110, 2 KT, 1 Gudg,... |
| |
|
|
DELL A840 Vostro |
| |
oleh : win, Jakarta |
| |
Jual males make, DELL VOSTRO A840 dual core 1,86GB, HDD 120GB, RAM 3GB, VGA X3100 350MB, WIFI, Bluet... |
| |
|
|
|
 |
|
 |
|
|
 |
 |
 |
| |
koran-radar.com HOT berita |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
Minggu, 26/04/2009 [11:39:54] |
|
| |
Kreasi Tangan Terampil Penyandang Cacat |
|
| |
Rolles Herwin S, S.Kom [Jakarta] |
|
| |
|
|
| |
Keterangan Gambar : Slamet Taryono |
|
| |
Jakarta, KR Online
Korsleting listrik hebat telah mengubah jalan hidup Slamet Taryono: dari karyawan biasa menjadi bos perusahaan kerajinan. Itu cerita baiknya. Tapi harap dicatat, untuk meraih sukses tadi, lelaki 37 tahun itu harus melewati masa-masa teramat getir menjadi orang cacat. Ia kehilangan kaki kanan akibat kesetrum, dan sempat stres selama dua tahun.Ketika nahas itu menimpa, 20 tahun silam, Slamet bekerja sebagai pegawai PLN di bagian instalasi listrik. Ia bersama dua rekannya ditugaskan memperbaiki jaringan di salah satu menara di kawasan industri logam Ceper, Klaten, Jawa Tengah. Tiba-tiba satu sisi anting-anting pada menara tersebut lepas hingga terjadi hubungan arus pendek yang menyebabkan travonya meledak dahsyat.
Kedua rekannnya meninggal. Sedangkan Taryono --ia disapa begitu-- sedikit lebih beruntung. Nyawanya selamat, meski kaki kanannya menjadi buntung. Kedua tangannya kaku, tak bisa digerakkan lantaran sarafnya mati. Beruntung pula, setelah dirawat di rumah sakit, kedua tangannya bisa berfungsi lagi. Toh, Taryono masih bersedih. "Saat itu rasanya ingin mati saja," ia mengenang.
Semangat hidupnya pulih kembali setelah masuk Pusat Rehabilitasi Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum) di Yogyakarta, pada 1991. Di yayasan itulah ia banyak belajar keterampilan. Sedangkan pengetahuan fund-raising didapat dari kursus singkat di Selandia Baru (1992) dan di Australia (1993). Berbekal keterampilannya ini, Taryono kemudian mendirikan usaha sendiri.
"Saya ingin mandiri dan bisa mengajak lebih banyak orang difabel bekerja," kata Taryono. Mengandalkan warisan keluarga, sisa gaji, dan honor sebagai penerjemah bahasa Inggris, Taryono membeli 15 mesin sebagai alat produksi kerajinan kayu. Seperti gergaji mesin, kompresor, mesin pembuat siku, hingga mesin ampelas. Ia menggandeng lima rekannnya di Yakkum untuk bergabung.
Usahanya ini dinamai Mandiri Craft, berlokasi di Desa Ngangkruk, Kretek, dan Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Produknya berupa alat peraga sekolah dan mainan anak-anak. Seperti, puzzle aneka bentuk, pesawat terbang, kapal, kereta api, dan mobil-mobilan huruf. Semuanya bisa dibongkar pasang untuk mendorong kreativitas anak.
Produk Mandiri Craft ternyata laris manis. Taryono lantas mengajak lebih banyak kawan senasibnya dari Yakkum. Total pegawainya 25 orang, semuanya berkaki cacat. Ada yang lumpuh karena polio, ada yang buntung kedua kakinya akibat kecelakaan. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Solo, Semarang, Banyuwangi, Magetan, dan Gunung Kidul. Untuk mobilitas kerja, ada beberapa motor yang dimodifikasi sehingga bisa dioperasikan tanpa kaki.
Meski dengan keterbatasan fisik, mereka cukup produktif. Sebulan mampu berproduksi 2.000 unit. Awalnya, produk dipasarkan di Yogyakarta, Bali, Medan, dan Bandung. Lalu merambah ke luar negeri seperti Belanda, Australia, dan Jerman. Sebulan mengekspor satu kontainer terdiri dari belasan item.
Mandiri Craft sempat mandeg akibat gempa bumi yang melanda Yogyakarta, 2006 silam. Seluruh peralatan dan produknya hancur. Kaum difabel pun kian berjubel. Ada 200 orang yang cacat akibat bencana itu. Setahun kemudian, Tarjono berhasil menggalang dana para donatur luar negeri. Bengkel usaha mereka yang ambruk dibangun kembali. "Semangat kami pun kembali menyala," kata Taryono.
Untuk memberdayakan para difabel, dibentuk Yayasan Penyandang Cacat Mandiri, yang diresmikan pada 18 Februari 2009 lalu. "Tujuan utamanya untuk memacu kemandirian para penyandang cacat," kata Taryono yang didaulat menjabat sebagai ketua yayasan. Para penyandang cacat akan mendapat pelatihan keterampilan sesuai dengan keinginannya. Setelah lulus, mereka mendapat sertifikat dan diperbolehkan bekerja di yayasan. Itu kalau mereka belum bisa usaha mandiri.
Kini Mandiri Craft punya fasilitas lengkap, sumbangan dari Palang Merah Jepang dan Malaysia. Ada bangunan megah seluas 1.800 meter persegi di pinggir Jalan Parangtritis, Yogyakarta. Bangunan senilai Rp 4 milyar lengkap dengan perabotan hibah dari Jepang itu berdiri di lahan sewaan seluas 3.000 meter persegi, yang disewa selama 20 tahun. Tempat ini mampu menampung 100 perajin difabel untuk dikaryakan.
Untuk kegiatan pelatihan, materi, dan pembiayaannya, Palang Merah Malaysia siap membantu. Sedangkan untuk pemasarannnya, ada organisasi penyandang cacat yang bersedia menopangnya. Mandiri Craft juga menampung karya perajin penyandang cacat di mana pun asalnya. Produknya, antara lain, berupa lukisan, dompet, wayang kulit, diorama Yesus, serta aneka patung dan suvenir.
Tampaknya, berkumpul dan bekerja sama dengan orang senasib memang bisa membangkitkan semangat. Itu dirasakan benar, misalnya, oleh Suwido. Warga Temuwuh, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, itu lumpuh karena tulang belakangnya patah lantaran gempa bumi yang melanda Yogyakarta, 2006 silam. Ia diajak Taryono bergabung di Mandiri Craft setelah setahun hidup dalam keputusasaan.
"Menjadi perajin membuat hidup saya kembali berarti," kata Suwido, sumringah. Setiap hari pukul 07.00, Suwido berangkat menuju bengkel Mandiri Craft yang berjarak sekitar 25 kilometer dari rumahnya. Ia mengendarai sepeda motor yang telah didesain khusus untuk orang lumpuh.
Di Mandiri Craft, Suwido bersama 25 penyandang cacat lainnya berbagi tugas berdasarkan kemampuan. Bagi yang berkursi roda mendapat tugas mengamplas, membentuk, atau mengecat mainan. Yang berjalan memakai tongkat bertugas memindah-mindahkan kayu dari satu proses ke proses lainnya, serta menjemur hasil kerajinan yang telah dicat. Rata-rata mereka mendapatkan gaji Rp 750.000 per bulan.
Mereka tampak begitu happy. Saat sore menjelang, mereka saling membantu agar duduk nyaman di atas motor untuk pulang ke rumah masing-masing. Buat sebagian perajin bujangan, dan tak lagi memiliki tempat tinggal, disediakan rumah kayu sederhana di samping bengkel kerja. Malam hari mereka berkumpul bersama warga sekitar dusun. Bermain gitar, atau sekadar bersenda gurau dan minum kopi. "Di sini kami seperti berkumpul dengan saudara," kata Yoko, 23 tahun.
Yoko kehilangan kaki lantaran kecelakaan kereta api, saat usianya 10 tahun. Ia sempat frustrasi dan mogok sekolah. Syukur, banyak temannnya yang memberikan semangat. Ia pun terus sekolah hingga tamat SMA. Berbekal keterampilan yang diperolehnya di Yakkum Yogyakarta, Yoko bergabung dengan Mandri Craft satu setengah tahun lalu. Awalnya ia bertugas mengampelas, kini lebih banyak membentuk. Pekerjaannnya sangat rapi.
Cacat fisik tak membuat Yoko dan rekan-rekanya di Mandiri Craft menggantungkan hidup pada belas kasihan orang. Mereka lebih suka membanting tulang ketimbang mengemis. "Saya merasa punya kebanggaan kalau bekerja," kata Yoko, yang juara catur dan hobi bermain tenis kursi roda ini. Rekan-rekannya mengamini. Dan Taryono pun merasa bahagia, berhasil membangkitkan kemandirian kaum difabel. (Tmn/Gatra)
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
Anda ingin memasang banner? hubungi kami di : 021 - 6833 5800 |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
|