|
|
 |
|
 |
|
|
Lowongan Perwakilan Biro Radar |
| |
oleh : redaksi radar, Jakarta |
| |
Radar.co.id membuka lowongan untuk perwakilan Biro diseluruh Indonesia, dengan syarat :
a. Penga... |
| |
|
|
JUAL RUMAH DILEMBAH APARTEMEN |
| |
oleh : d triarso, JAKARTA PUSAT |
| |
DIJUAL :
Bekas Rumah Dinas dilembah / dikelilingi Apartemen Kemayoran. LT/LB 171/110, 2 KT, 1 Gudg,... |
| |
|
|
DELL A840 Vostro |
| |
oleh : win, Jakarta |
| |
Jual males make, DELL VOSTRO A840 dual core 1,86GB, HDD 120GB, RAM 3GB, VGA X3100 350MB, WIFI, Bluet... |
| |
|
|
|
 |
|
 |
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
Sabtu, 09/05/2009 [14:16:05] |
|
| |
Pakar Nekat dari Kota Kembang |
|
| |
rolles [Depok] |
|
| |
|
|
| |
Keterangan Gambar : Jusuf Randy |
|
| |
Jakarta, KR Online
Namanya pernah membuat geger umat senegeri ini di ujung 1980-an. Bukan apa-apa, setelah dinobatkan sebagai pakar komputer, dia dinyatakan buron karena sejumlah kasus. Dari sekadar pemalsuan kartu identitas, tanda kenal lahir, dan paspor hingga kasus yang merugikan negara senilai Rp 2,3 milyar. Malah dia dikabarkan tengah diuber-uber Interpol karena terlibat kasus penggelapan pajak di Jerman.Siapa lagi dia kalau bukan Jusuf Randy. Kiprahnya sebagai pakar komputer sempat mencorong karena ada petinggi negeri pada waktu itu yang memperkenalkannya kepada publik. Walhasil, berkat kepiawaiannya bermain di kalangan atas, Jusuf pun berhasil mendirikan sebuah lembaga pendidikan khusus komputer di Bandung. Namanya, Lembaga Pendidikan Komputer Indonesia Amerika (LPKIA), yang masih berdiri hingga kini.
LPKIA dahulu kerap disebut-sebut sebagai lembaga pendidikan komputer modern pertama di Indonesia. Boleh jadi, walau belum tentu benar karena ada sejumlah lembaga lain yang berdiri sebelumnya, gaung nama besar Jusuf membuat LPKIA sangat mencorong ketika itu. Dan itu karena kepiawaiannya menjalin akses ke sejumlah petinggi negara yang membenum dia sebagai pakar komputer otodidak.
Namun, siapa sebenarnya Jusuf Randy, tak banyak informasi yang bisa dikorek. Ia dikabarkan lahir di "kota kembang", 19 Juli 1942. Tempat kelahirannya pun cukup kontroversial. Ia mengaku lahir di Sumedang. Tapi banyak informasi yang menyebutkan, dia lahir di Bandung dan besar di kawasan Jalan Kelenteng. Di lingkungan itu, dia lebih dikenal dengan julukan ''si Tompel''.
Satu-satunya informasi mutakhir yang diperoleh pada saat ini adalah riwayat hidup yang ditulisnya sendiri melalui situs mangucup.net. Di situ, ia banyak mengungkap kehidupan masa kecilnya yang fakir sampai kini tinggal di Belanda sebagai penginjil. Ia hidup bersama istrinya, Elisabeth Widiyati, yang dahulu juga buron karena kasus pemalsuan identitas pula.
Lewat situs tersebut, Jusuf mengungkapkan, pada waktu kecil ia bercita-cita menjadi juragan. Dalam kehidupan orangtuanya yang didera kesempitan selama zaman Jepang, dia menyaksikan betapa enaknya kehidupan seorang juragan. Pada masa itu, di kampung tempat mereka tinggal, hidup seorang janda kaya raya yang berprofesi sebagai juragan. Bercermin pada kenikmatan hidup si janda itulah, kemudian tertanam dalam dirinya cita-cita menjadi juragan.
"Saya masih ingat betul ketika masih kecil ditanya oleh Ibu dalam bahasa Sunda, 'Lamun geus gede, maneh arek jadi naon?' (Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa?). Spontan saya menjawab, 'Arek jadi juragan jiga Bibi Randa tatangga urang' (Mau jadi juragan seperti Bibi Janda tetangga kita),'' tulis dia.
"Pikiran saya pada saat itu ialah tiap orang yang tidak perlu lapar adalah seorang juragan! Maka dari itu, nyonya janda tetangga kami pada saat itu adalah seorang juragan. Mendengar jawaban lantang dari anaknya, Ibu tertawa bangga. Ditanya mau jadi apa kalau sudah besar, maka jawabannya mau jadi juragan. Istilah sekarang konglomerat," tulis dia lagi.
"Sekarang saya mengerti mengapa Ibu tertawa. Tentu dia hanya mengira bahwa jawaban saya merupakan hal yang mustahil akan dapat diraih. Tapi saya pun yakin, sebagai seorang ibu, pasti dia memanjatkan doa ke hadirat Tuhan, agar keinginan saya untuk jadi juragan dapat terkabul. Semenjak itu, siang malam saya diburu sugesti. 'Harus jadi juragan! Harus jadi juragan! Harus jadi juragan!' Karena saya ingin bisa makan kenyang tiap hari seperti nyonya randa tetangga kami. Itulah motor yang mendorong hidup saya," tulis dia.
Malah, saking kuatnya pengaruh sang janda terhadap motivasi hidupnya, kelak dia mengganti namanya menjadi Jusuf Randy. Kata Randy di belakang namanya berasal dari pelesetan kata randa atawa janda. Sebab cita-citanya untuk hidup enak seperti janda itu sudah terkabul. Nama pemberian orangtuanya sejak lahir, Nio Tjoe Siang, pun terkubur bersama sukses yang digapainya di negeri orang: Jerman.
Menurut kesaksian kawan-kawannya di masa kecil, Jusuf yang kemudian menyebut dirinya Mang Ucup itu dikenal cerdik dan nekat. Maka, tak mengherankan, berbeka cita-cita menggelembung di dadanya, ia lalu berkelana ke luar negeri pada usia 20 tahun tanpa modal duit ataupun pendidikan yang memadai. Pada 1960-an, ia kabur dari Bandung untuk mencapi peruntungan di Jakarta. Di Ibu Kota, ia lalu berhasil ikut sebuah kapal dagang dengan jalur pelayaran ke Eropa dan menjadi kelasi di sana. Ia pun terdampar di Jerman.
Kenekatannya memang tampak begitu gamblang. Bermodal hanya beberapa puluh dolar hasil kerja di kapal, tanpa kemampuan berbahasa asing sama sekali, di memulai perkelanaan di Jerman sampai akhirnya ikut seorang pendeta. Selain bekerja sebagai pembantu di rumah sang pendeta, Jusuf pun menimba ilmu sampai tingkat pendidikan tinggi. Konon, Jusuf pernah kuliah di Sekolah Tinggi Ekonomi Duisburg.
Selain itu, ia juga disebut-sebut mendalami ilmu komputer di Duesseldorf dan ilmu manajemen di International Management Training di Reidensburg. Dalam situsnya, Jusuf tidak menyebutkan persis di mana ia pernah kuliah ekonomi.
Selepas pendidikan tinggi, Jusuf mengungkapkan di mana saja ia pernah bekerja sebelum pulang ke Indonesia dan membangun LPKIA. Jusuf mengaku pernah bekerja di sejumlah perusahaan di Jerman: Klockner, International Harvster, IBM, Univac, dan Germany Data Communication. Ia juga mengaku pernah bekerja di International Computer Ltd, Inggris. Tapi, yang jelas, Jusuf memang sempat menduduki posisi sebagai programer sistem di IBM dalam kurun 1970 hingga 1973.
Pulang ke Indonesia sekitar pertengahan 1980-an, Jusuf mendirikan LPKIA. Berkat hubungannya dengan sejumlah petinggi, lembaga pendidikan ini cepat melesat. Lembaga yang ia dirikan itu bahkan sempat diberi kepercayaan menggarap program komputerisasi hasil-hasil pertandingan Pekan Olahraga Nasional IX di Jakarta pada 1988. Tapi, konon, Jusuf ingkar. PON berjalan, komputerisasi itu ternyata mandek.
Genap dua dekade sudah Jusuf menghilang dari negeri ini. Kasus-kasus yang melibatkan namanya ikut menguap. Dia menghilang setelah kejaksaan mengabulkan permohonannya untuk menjalani tahanan luar. Teka-teki kepakarannya di bidang komputer yang belum terjawab pun sudah dilupakan orang. (Tmn/Gtr)
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
Anda ingin memasang banner? hubungi kami di : 021 - 6833 5800 |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
|