situs berita dan informasi online
  Cari Berita :  
 
mobi pascabayar
ARTIKEL DARI PEMBACA
 
News :: Selasa, 07/09/2010 [16:34:19]
BERTENTANGAN DENGAN UUD’45
MENOLAK UU 40/2004 TENTANG SJSN
I. UU 40/2004 KEPENTINGAN SIAPA? Setelah membaca keseluruhan Undang-undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) kami sampai pada kesimpulan bahwa Undang-undang ini mengikut... oleh Tri sasongko di Jakarta
 
 
News :: Selasa, 07/09/2010 [08:54:11]
Dinilai sering hambat perjanjian kerja bersama
Said Didu Diminta Lengser
News :: Senin, 06/09/2010 [16:12:10]
PNPM-MP
KEDOK
News :: Senin, 06/09/2010 [15:13:38]
DPR-RI
Polemik Gedung Baru, Ketua DPR Salahkan Setjen
News :: Senin, 06/09/2010 [14:02:16]
DPR-RI
Marzuki Alie Siap Stop Rencana Gedung Baru DPR
News :: Minggu, 05/09/2010 [11:52:39]
BURT
Kolam Renang DPR Untuk Atasi Kebakaran
Lowongan Perwakilan Biro Radar
  oleh : redaksi radar, Jakarta
  Radar.co.id membuka lowongan untuk perwakilan Biro diseluruh Indonesia, dengan syarat : a. Penga...
   
JUAL RUMAH DILEMBAH APARTEMEN
  oleh : d triarso, JAKARTA PUSAT
  DIJUAL : Bekas Rumah Dinas dilembah / dikelilingi Apartemen Kemayoran. LT/LB 171/110, 2 KT, 1 Gudg,...
   
DELL A840 Vostro
  oleh : win, Jakarta
  Jual males make, DELL VOSTRO A840 dual core 1,86GB, HDD 120GB, RAM 3GB, VGA X3100 350MB, WIFI, Bluet...
   
update smart v2 cuma 165rb
 
 
koran-radar.com HOT berita
 
 
 
     
 
Minggu, 24/05/2009 [16:09:44]
 
  Menyaksikan Tontonan Menyerap Tuntunan  
  Rolles Herwin S, S.Kom [Jakarta]  
     
  Jakarta, KR Online
Menatap ke depan, tengok kiri-kanan. Begitulah sikap sebagian penonton bule ketika menyaksikan pementasan wayang di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, tiga pekan lalu. Penonton warga negara asing itu bukannya tak jenak atas pementasan dalang kondang Ki Anom Suroto yang membawakan lakon Bimo Bungkus itu.

Mereka hanya sedang membagi antara antusiasme dalam menyaksikan kebolehan dalang memainkan wayang dan ketekunan memperhatikan teks terjemahan versi bahasa Inggris untuk mempermudah menyimak makna filosofis adegan, dialog, dan tembang. Ada empat monitor plasma selebar 50 inci yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri ruang pertunjukan yang berfungsi menghadirkan teks terjemahan.

"Terjemahan itu sangat membantu pemahaman saya, baik cerita maupun falsafah wayang," kata John McLyn, warga negara Amerika Serikat yang bermukim di Indonesia sejak 30-an tahun silam. Ia doyan menonton pertunjukan wayang, tapi tidak menguasi bahasa Jawa yang sering digunakan sebagai bahasa pengantar cerita.

Ada 27 orang asing di antara 200-an penonton pertunjukan Ki Anom di grand ballroom Hotel Dharmawangsa itu. Sebagian besar adalah orang kedutaan, antara lain Kedutaan Amerika Serikat, Belanda, Meksiko, dan Prancis. McLyn dan para penikmat wayang yang tak bisa berbahasa Jawa mengaku merasa nyaman menyaksikan tontonan dan menyerap tuntunan (folosofi) itu.

Bahkan mereka yang bisa berbahasa Jawa pun merasa terbantu oleh strategi penerjemahan itu. "Ada beberapa materi yang tidak disampaikan dengan bahasa Jawa keseharian," kata Rohmad Hadiwijoyo, Direktur Yayasan Lontar, lembaga nirlaba yang bergiat dalam promosi sastra dan kebudayaan Indonesia.

Kemudahan pemahaman semacam itu dimungkinkan berkat jasa terjemahan oleh Kathryn Emerson, 48 tahun. Uniknya, warga Amerika Serikat yang akrab dipanggil Kitsie itu mengaku bahwa pada awal pertunjukan dia merasa kerja translasi itu tidak akan berlangsung mudah.

Otoritas seorang dalang dalam melakukan improvisasi bikin Kitsie tidak mampu membayangkan konsep pertunjukan secara utuh. "Saya agak nervous karena saya kan sama sekali tidak tahu Pak Anom akan pakai dialog dan janturan seperti apa," katanya. Namun, ketika pertunjukan mulai bergulir, Kitsie merasa lebih akrab dan terbiasa.

Selain itu, ia berpengalaman 30 kali menerjemahkan pertunjukan wayang beberapa dalang yang berbeda. Improvisasi yang dilakukan dalang, menurut Kitsie, membuat satu lakon yang sama akan melahirkan nuansa adegan, dialog, dan cerita yang berbeda-beda. Selalu ada kebaruan, aktual, serta pertunjukan menjadi hidup dan kontekstual.

Karena itulah, penerjemahan sama sekali tidak bisa direncanakan. "Penerjemahan selalu dilakukan seketika. Begitu dalang berujar, saya menulis terjemahannya," kata Kitsie. Guyonan, menurut dia, adalah bagian yang paling sulit diperoleh padanan terjemahannya; yang sedemikian rupa melahirkan efek tawa penonton.

"Karena yang lucu di salah satu budaya tidak begitu lucu untuk bangsa lain dan sebaliknya," ujar Kitsie. Dengan begitu, aspek guyonan idealnya disertai penjelasan tentang konteks berdasarkan latar belakang humornya. Sementara itu, untuk bagian-bagian tertentu yang mensyaratkan tertib pakem, seperti alur cerita dan pembabakan, Kitsie mengaku tidak mengalami kesulitan dalam menyulihbahasakannya.

Maklum, sejak 1985, ia mengaku tertarik pada wayang. Sebagai penerjemah, Kitsie biasanya duduk bersimpuh di depan para sinden, di ujung belakang kanan dalang. Ia terlihat khidmat mendengarkan ucapan dalang, lantas sibuk menarikan jari di tuts komputer jinjingnya.

Meski kecepatan mengetiknya tak diragukan, adakalanya ia keteteran juga. Itu terlihat pada penerjemahan percakapan antartokoh, yang sesekali hanya memuat kalimat dialog, tidak disertai keterangan nama sosok yang mengucapkannya. "Itu untuk mengejar agar tidak ada kekosongan. Saya pikir, penonton cukup paham," kata Kitsie.

Pada kesempatan lain, Kitsie tidak sungkan melengkapi terjemahannya dengan keterangan tambahan yang dirasa perlu. Misalnya, dalam memaparkan tembang, Kitsie dengan fasih mendedah satu per satu tembang yang dibawakan para sinden.

Pada saat tokoh terlahir sebagai bayi, tembang mijil mengiringinya. Tembang sinom digunakan untuk menggambarkan tokoh ketika menginjak remaja. Selayaknya remaja, ia lantas mencari-cari pasangan yang dilagukan dengan tembang kinanti. Sebagai pasangan muda, ketika pengantin baru memuncak berahi, dilantunkanlah tembang durma.

Sedangkan tembang dandanggula menggambarkan kenikmatan kehidupan yang berlanjut pada kekhawatirannya ketika menjelang renta, yang digambarkan dengan tembang girisa. Ilustrasinya, pada saat jejer yang menandai dimulainya cerita, Kitsie menuliskan keterangan: "We begin the story in the heaven. This is elephant Sena. He is an animal but has aspiration to be human. His meditation and his intention is to be as full as concentration as he can...."

Namun tak semua yang diucapkan dalang bisa diterjemahkan secara langsung oleh Kitsie. Ketika pergantian babak, dalang melantunkan semacam tembang yang terdengar puitis, yang biasanya disebut suluk. "Tembang" itu dimaksudkan untuk menunjang adegan yang muatannya bisa merupakan penggambaran suasana batin para tokoh yang sedang marah, senang, atau susah.

Untuk suluk berbunyi: "Leng-leng ramyan ingkang sasongko kemnyar Mangkling tanpa siri...," yang menggambarkan suasana keraton yang indah dengan cahaya rembulan yang menyinari, Kitsie hanya menerjemahkannya dengan keterangan yang memuat gambaran umum muatan puitis yang dikemukakan seorang dalang: "Throughout the wayang the dalang will sing piece of poetry to emphasize the mood of the scene. The words are not directly related to the plot."

Lakon Bimo Bungkus, dalam pementasan padat, bercerita soal Bima, anak Pandu Dewanata dengan Dewi Kunti. Kelahirannya menghebohkan negara Astina, bahkan menggoyahkan Suralaya. Sebab kelahiran Bima berupa gumpalan daging yang terbungkus kulit selama belasan tahun. Tidak ada alat yang terbuat dari baja ataupun besi yang dapat membelah gumpalan daging tersebut.

Cerita itu diawali dengan adegan Gajah Sena yang ingin diangkat sebagai anak dewa. Ia melakukan meditasi sebagai sarana untuk mewujudkan cita-citanya. Meditasi itu bisa menciptakan ketidakseimbangan, sehingga Batara Guru memerintahkan Narada turun dari Suralaya, tempat bermukim para dewa, ke Arcapada.

Gajah Sena bisa diakui sebagai anak dengan syarat harus memecahkan bungkus dan berkorban menyatu dengan sang jabang bayi. Gajah Sena akhirnya berhasil. Bayi pun lahir dalam wujud anak remaja yang sudah berpakaian lengkap yang diberi nama Bima Sena. Baju itu adalah pemberian dewa lewat Dewi Umo yang menitis pada bungkus. Pakaian itu berupa kain Poleng Bang Bintulu, gelang Candrakirana, kalung Nagasasra-Nagabanda, sesumping Jarating Asem, dan Pupuk Pudhek Sinumpet.

Menurut Ki Anom Suroto, moral cerita yang disampaikan dalam lakon Bimo Bungkus sangat banyak. Namun intinya adalah tentang soal pendidikan, yang bisa dimulai sejak dalam kandungan. Kalau seorang anak mendapat asupan pendidikan yang baik, dia bakal menjadi anak yang cerdas dan berbudi luhur. Itu dicerminkan lewat warna pakaian merah, kuning, hitam, dan putih, juga aksesori yang dipakai.

Secara keseluruhan, terjemahan Kitsie sangat membantu sosialisasi hiburan dan falsafah hidup yang terkandung dalam pementasan wayang. Ini diakui Ki Anom Suroto. Dengan terjemahan, orang bisa paham. "Kalau memahami cerita dan nilai-nilai kehidupan, orang asing saja bisa tertarik, apalagi para generasi muda bangsa kita," ujarnya.

Terjemahan juga menjadi sarana bagi orang asing untuk belajar tentang kebudayaan Jawa, adat istiadat, bahkan memahami humor-humor khas Jawa dan turut tertawa bersama seluruh penonton. Ki Anom Suroto menyambut baik adanya penerjemahan pementasan wayang itu. "Penerjemahan juga menjadi bagian dari pertunjukan," kata Anom.

Strategi menerjemahkan langsung sebuah pertunjukan wayang ke dalam bahasa Inggris oleh orang asing adalah kenyataan yang ironis. Sebab, dalam banyak kesempatan, cukup banyak harapan dilontarkan orang Indonesia asli --yang tidak menguasai bahasa Jawa-- untuk menyaksikan, mengerti, dan memahami filosofi wayang lewat bantuan terjemahan bahasa Indonesia. Tanya kenapa? (Tmn/Gtr)


 
     
 
mark-it indonesia
 
     
 
Anda ingin memasang banner? hubungi kami di : 021 - 6833 5800
 
 
   
BERITA SEBELUMNYA...
 
H-2 Idul Fitri Tol Cikampek Macet Parah
Cyrus Sinaga Datangi KPK
Menunggu Ketua KPK Yang Baru
Relokasi Warga Gg.Teluk Batang
Padati Jalur Pantura Indramayu
 
     
 
Redaksi : Jl Jatinegara Barat No.181A Lt.3, Jakarta Timur 13310 - Phone 021 - 68335800 / Fax : 021-2800366
© 2010 radar.co.id . Gunakan browser dengan dukungan flash & java ketika mengunjungi web ini. Powered by MDevelopment v3.0