|
|
 |
|
 |
|
|
Lowongan Perwakilan Biro Radar |
| |
oleh : redaksi radar, Jakarta |
| |
Radar.co.id membuka lowongan untuk perwakilan Biro diseluruh Indonesia, dengan syarat :
a. Penga... |
| |
|
|
JUAL RUMAH DILEMBAH APARTEMEN |
| |
oleh : d triarso, JAKARTA PUSAT |
| |
DIJUAL :
Bekas Rumah Dinas dilembah / dikelilingi Apartemen Kemayoran. LT/LB 171/110, 2 KT, 1 Gudg,... |
| |
|
|
DELL A840 Vostro |
| |
oleh : win, Jakarta |
| |
Jual males make, DELL VOSTRO A840 dual core 1,86GB, HDD 120GB, RAM 3GB, VGA X3100 350MB, WIFI, Bluet... |
| |
|
|
|
 |
|
 |
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
Jumat, 02/10/2009 [10:59:43] |
|
| |
Obyek Wisata Alam Pesona Sanggabuana |
|
| |
Perlu Dikelola Serius |
|
| |
[Purwasuka] |
|
| |
|
|
| |
Karawang, Radar Online
Potensi wisata Kabupaten Karawang kian nampak, dengan semakin meningkatnya jumlah wisatawan domestik yang menjadikan Karawang sebagai tujuan wisatanya. Alasannya karena di Karawang sesungguhnya banyak tempat menarik dan memiliki nilai jual, karena keindahan panorama alamnya dan memiliki nilai Exotis serta nilai sejarah seperti halnya Tugu Kebulatan Tekad di Rengasdengklok, Candi Jiwa, Pantai Tanjung Pakis dan masih banyak lagi objek wisata lainnya.
Yang terpopular adalah wisata alam pesona Sanggabuana di Kec. Tegalwaru. Disini sedikitnya terdapat 7 objek wisata Curug nan mempesona, namun yang menjadi unggulan adalah Curug Cigentis yang memiliki daya tarik karena keindahan alamnya, jauh dari polusi dan hiruk-pikuk kota, di Curug Cigeuntis pengunjung tidak hanya dimanjakan oleh panorama alam tapi juga bisa menikmati keindahan air terjun dan mandi sekedar untuk melepas kepenatan bahkan jika beruntung pengunjung juga dapat mengamati populasi satwa liar yang beraneka ragam.
Namun sayangnya potensi wisata yang bisa menggerakkan roda perekonomian masyarakat ini tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah dan para stake holder. Banyak fasilitas yang masih kurang, kalaupun ada terkesan dipaksakan dan asal jadi dalam pengerjaannya seperti minimnya fasilitas MCK, Mushola dan yang paling penting adalah kondisi inprastruktur jalan yang belum memadai.
Belum lagi pungli yang merajalela. Seolah memancing dalam air yang keruh, para aparat desa berbaur dengan preman, berlomba mengeruk uang tanpa memperhatikan etika dan estetika terhadap wisatawan sehingga tidak sedikit wisatawan yang mengeluhkan ketidak nyamanan yang di tebar para petugas loket.
Carut marutnya pengelolaan objek wisata unggulan Karawang ini dirasakan sejak wisatawan memasuki pasar tradisional Loji, perempatan jalan yang sempit dan ulah preman pasar yang menjual paksa Aqua kemasan botol 500 ml seharga 5000 kepada para pengemudi kendaraan roda empat menambah kelelahan pengunjung. Baru saja terlepas dari preman dan kemacetan pasar, tidak jauh dari pasar Loji, tepatnya didepan kantor desa Cintalaksana pengunjung terpaksa merogoh kocek kembali dan mengeluarkan sejumlah uang untuk pungutan yang tidak jelas. Bahkan saat dikonfirmasi kepada Aparat desa tersebut, wartawan Koran Radar dapat langsung menyimpulkan bahwa pungutan ini liar dan ilegal karena tidak ada aturan retribusi yang jelas, aktifitas yang diduga pungli ini kembali membuat kemacetan dan menambah kekesalan pengunjung.
Setelah melewati Desa Cintalaksana pengunjung barulah memasuki gerbang wisata alam pesona Sanggabuana yang sebenarnya, tepat di depan kantor Kepala Desa Mekarbuana. Disini Wartawan Koran Radar bisa melihat legalitas pungutan karena memiliki retribusi dan loket penjualan layaknya objek wisata, namun sayangnya para petugas tidak dibekali etika dan estetika terhadap pengunjung, sama sekali tidak terlihat senyum ramah dan ucapan selamat datang dari para petugas kepada pengujung.
Dari gerbang wisata pengujung bisa memilih lokasi wisata yang di inginkan, sebagian kecil memilih Curug Santri namun mayoritas memilih kearah Curug Cigentis dan Curug Bandung. Sehingga kendaraan pengunjung dari kaki gunung tampak padat merayap.
Pemandangan seperti ini selalu terlihat sejak H + 1 hingga H + 7 lebaran, sedikitnya 50.000 wisatawan mendatangi lokasi ini selama musim libur lebaran 1430 H, namun yang berhasil sampai dilokasi tujuan diperkirakan hanya 70 % nya.
Selebihnya telah merasa prustasi dan terlalu lelah karena energi dan konsentrasinya terkuras di tengah jalan, seperti yang di kisahkan Arif (17), pemuda tanggung asal Cikarang yang turut membawa 10 rombongan bermotor. Pada akhirnya Arif lebih memilih mandi dikali dekat lapangan parkir saja karena salah satu rekannya mengalami insiden terhatuh dari motor dan mengakibatkan kamera Olympus E-420 seharga 7 juta ikut terjatuh dau rusak berat. “Tadi rombongan kami sudah sampe di tanjakan yang ada di atas sana, tapi kamera motor si Budi Jatuh Bang, Budinya sih gak kenapa-napa cuma itu kamera nya gak bisa di pake lagi,” kisah Arif seraya menunjukan kamera yang dimaksud.
Ditambahkan oleh Arif bahwa insiden yang menimpa sahabatnya Budi tersebut terjadi lebih disebabkan karena kondisi jalan jelek dan berbatu, memang di akui Arif dari bawah Budi sudah di pusingkan oleh keramaian pedagang, “Dia orangnya memang gak terlalu suka yang rame-rame Bang tapi urusan bawa motor dia itu jagonya,” ujarnya.
Menurut Ibu Helly (49), salah seorang pedagang setempat, “Seharusnya para pedagang terlebih non pribumi di atur dan di tata dengan baik, tidak berantakan seperti ini,” ungkapnya. Namun saat disinggung mengenai harga jual barang dagangan yang cukup mahal, Ibu dari empat orang anak ini hanya tersenyum seraya berkata “Saya cuma ikut-ikutan saja, kalo saya kasih harga murah nanti yang lain marah lagi !, jadi intinya disini memang pada mahal semua Pak dan itu sih wajar,” katanya.
Managemen objek wisata yang masih kurang baik ini di akui pula oleh Asisten Perhutani Pangkalan, Engkus Witarya, “Sebagai pengelola curug Cigentis sejujurnya kami mengakui memang banyak sekali masalah, sebut saja relokasi pedagang, dan terutama kondisi jalan yang masih rentan terhadap kecelakaan pengunjung,” ungkapnya.
Namun saat di candai wartawan mengenai banyaknya kecelakaan Pak Asper lantas mengamini dan berkata “Ya memang, saya tau bahwa ada beberapa pejalan kaki yang sampe keseleo, jadi jangankan pengendara motor, pejalan kaki aja ada banyak yang gak sanggup menghadapi batu-batu jalanan menonjol di sepanjang jalan.
Bahkan kami pun ingin merasakan apa yang dirasakan pengunjung dengan mencoba berjalan kaki dari kaki gunung, kami pun telah melakukan Share dengan beberapa pengunjung yang menjadi narasumber kami dan hasilnya telah di laporkan ke Pimpinan kami sebagai data awal untuk membuat perencanaan pengelolaan wisata disana sehingga kedepannya kami bisa setahap demi setahap menata Curug Cigentis, kalo pengunjung merasa nyaman kan masyarakat juga yang di untungkan,” katanya dengan penuh semangat 45.
Kepada Wartawan Koran Radar, Engkus juga bercerita tentang pengalaman pribadinya selama menjadi pengelola objek wisata di daerah lain, yang paling ia kenang dan sangat ia banggakan adalah objek wisata Ciater. Disana menurutnya antara pengelola dengan pemerintah setempat telah terjalin kerja sama yang baik sehingga bisa memberikan hasil yang baik pula terhadap PAD dan kesejahteraan masyarakat. (Achwil L)
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
Anda ingin memasang banner? hubungi kami di : 021 - 6833 5800 |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
|