|
|
 |
|
 |
|
|
Lowongan Perwakilan Biro Radar |
| |
oleh : redaksi radar, Jakarta |
| |
Radar.co.id membuka lowongan untuk perwakilan Biro diseluruh Indonesia, dengan syarat :
a. Penga... |
| |
|
|
JUAL RUMAH DILEMBAH APARTEMEN |
| |
oleh : d triarso, JAKARTA PUSAT |
| |
DIJUAL :
Bekas Rumah Dinas dilembah / dikelilingi Apartemen Kemayoran. LT/LB 171/110, 2 KT, 1 Gudg,... |
| |
|
|
DELL A840 Vostro |
| |
oleh : win, Jakarta |
| |
Jual males make, DELL VOSTRO A840 dual core 1,86GB, HDD 120GB, RAM 3GB, VGA X3100 350MB, WIFI, Bluet... |
| |
|
|
|
 |
|
 |
|
|
 |
 |
 |
| |
koran-radar.com Opini berita |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
Kamis, 22/10/2009 [09:09:38] |
|
| |
Kompromi Politik Kabinet Pamungkas SBY |
|
| |
[Jakarta] |
|
| |
|
|
| |
Jakarta, Radar Online
Komposisi kabinet masih didominasi unsur partai politik. Pesiden Susilo Bambang Yudhoyono dianggap kurang memberi tempat bagi kalangan profesional di kabinetnya. Dari 36 kandidat menteri itu, jika tidak ada perubahan lagi, 24 di antaranya merupakan unsur partai politik dan afiliasinya. Selebihnya dari unsur profesional, sebagian besar juga diperkirakan masih ''berafiliasi'' dengan partai politik tertentu.Dari unsur partai politik, Partai Demokrat dan afiliasinya mendominasi dengan jatah 10 kursi, disusul oleh PKS dengan empat kursi. Partai Golkar dan PAN masing-masing mendapat tiga kursi. PPP dan PKB masing-masing memperoleh dua kursi. Kubu PKS mengaku cukup puas dengan perolehan kursi menteri itu. Menurut Ahmad Mabruri, PKS memang hanya mengajukan empat calon, dan figur yang diajukan itu tidak bergeser atau ditolak SBY.
Kubu Golkar juga cukup puas. ''Saya kira, cukup terakomodasi dan wajar saja. Saya sendiri tidak kecewa tidak masuk kabinet,'' kata Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Theo L. Sambuaga. Theo tadinya disebut-sebut akan menempati posisi Menteri Pertahanan.
Rasa tidak puas datang dari sebagian pengamat politik. Ibramsyah, misalnya, mengaku kecewa atas komposisi kabinet yang didominasi unsur partai politik itu. Ia menilai, semestinya SBY membangun kabinet dengan mengutamakan unsur profesional yang memiliki keahlian dan kompetensi di bidangnya.
''Tolonglah, Mr. President! Bentuklah kabinet atas dasar keahlian,'' ujarnya, masygul. Pengamat politik dari Universitas Indonesia itu memperkirakan akan terjadi bongkar-pasang kabinet di tengah jalan.
Direktur Lembaga Survei Nasional, Umar S. Bakri, menilai susunan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II itu tidak profesional dan tidak pro-rakyat, karena lebih banyak dipilih atas pertimbangan balas jasa. Hal ini, katanya dalam diskusi ''Kabinet Neolib dan Politik Balas Jasa'' di Jakarta, Senin lalu, merupakan gambaran karakteristik SBY yang cenderung kompromistis demi mengamankan kekuasaan.
Umar mengatakan, penempatan anggota kabinet banyak yang tidak sesuai dengan kompetensi dan latar belakang mereka. Misalnya Hatta Rajasa (insinyur perminyakan) yang diplot menjadi Menko Perekonomian. Andi Mallarangeng, yang menurut Umar lebih cocok menjadi Mensesneg, kok diplot menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga.
Sementara itu, dari segi manajemen koalisi, menurut pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, diakomodasinya Golkar dengan jatah tiga kursi menteri, yang menunjukkan bahwa SBY begitu kompromistis, akan mengancam kesolidan koalisi. ''Kemungkinan koalisi 2004-2009 yang tidak solid itu terulang pada 2009-2014,'' katanya kepada Sandika Prihatnala dari Gatra.
Pandangan sebaliknya dilontarkan pengamat politik Bima Arya Sugiarto. Ia melihat, komposisi kabinet SBY-Boediono itu masih sangat wajar karena, biar bagaimanapun, harus ada akomodasi terhadap partai koalisi, termasuk partai yang datang belakangan seperti Golkar. Ia juga menilai, cukup banyak unsur partai politik yang memiliki latar belakang dan keahlian yang sesuai dengan posisi menteri yang bakal dijabat.
Sebagai contoh, Bima Arya menyorongkan Patrialis Akbar, politikus PAN yang punya latar belakang hukum. Juga Darwin Zahedy Saleh dari Partai Demokrat, yang memiliki latar belakang ekonomi. ''Jadi, saya kira, dengan latar belakang partai politik ini belum berarti tidak memiliki kualifikasi yang kompeten,'' ujarnya kepada Gandhi Achmad dari Gatra. Ia yakin, kabinet yang dipimpin SBY-Boediono itu akan berjalan lebih baik. Semoga.
Kompromi politik dibutuhkan demi "kenyamanan" menjalankan roda pemerintahan hingga di akhir masa jabatannya.*** |
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
Anda ingin memasang banner? hubungi kami di : 021 - 6833 5800 |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
|