situs berita dan informasi online
  Cari Berita :  
 
mobi pascabayar
ARTIKEL DARI PEMBACA
 
News :: Rabu, 08/09/2010 [14:44:34]
Di Kabupaten Ende
578 Tenaga Honda masuk data Aplikasi
Guna menuntaskan polemic terkait nasib 654 orang tenaga Kontrak di kabupaten Ende maka pemerinta dalam hal ini Badan Kepegawaian Daera sudah dua kali melakukan konsul tasi. Kepala Bdan Kepegawaian Da... oleh vincentius Apaulo Wolo di ende
 
 
News :: Rabu, 08/09/2010 [10:11:14]
Panglima TNI yang Baru
Ibas Dukung Calon Panglima TNI yang Baru
News :: Selasa, 07/09/2010 [16:34:19]
BERTENTANGAN DENGAN UUD’45
MENOLAK UU 40/2004 TENTANG SJSN
News :: Selasa, 07/09/2010 [08:54:11]
Dinilai sering hambat perjanjian kerja bersama
Said Didu Diminta Lengser
News :: Senin, 06/09/2010 [16:12:10]
PNPM-MP
KEDOK
News :: Senin, 06/09/2010 [15:13:38]
DPR-RI
Polemik Gedung Baru, Ketua DPR Salahkan Setjen
Lowongan Perwakilan Biro Radar
  oleh : redaksi radar, Jakarta
  Radar.co.id membuka lowongan untuk perwakilan Biro diseluruh Indonesia, dengan syarat : a. Penga...
   
JUAL RUMAH DILEMBAH APARTEMEN
  oleh : d triarso, JAKARTA PUSAT
  DIJUAL : Bekas Rumah Dinas dilembah / dikelilingi Apartemen Kemayoran. LT/LB 171/110, 2 KT, 1 Gudg,...
   
DELL A840 Vostro
  oleh : win, Jakarta
  Jual males make, DELL VOSTRO A840 dual core 1,86GB, HDD 120GB, RAM 3GB, VGA X3100 350MB, WIFI, Bluet...
   
update smart v2 cuma 165rb
 
 
koran-radar.com Dunia Wisata berita
 
 
 
     
 
Sabtu, 30/01/2010 [11:34:32]
 
  Menjual Kemiskinan Sudut Kota Jakarta  
  Richard Burton.P [Jakarta]  
     
  Keterangan Gambar : Salah satu sudut Kota Jakarta.  
  Jakarta, Radar Online
Ini dia paket wisata unik. Jakarta Hidden Tour. Jangan membayangkan objek wisata dengan pantai yang elok ataupun taman nan asri, karena yang tersaji dalam paket wisata ini hanyalah daerah kumuh di pinggiran kota Jakarta. Peserta wisata ini, biasanya turis mancanegara, diajak berpanas-panas menyusuri gang-gang sempit. Kendaraan yang digunakan juga angkutan umum kelas rakyat: Metro Mini, bajaj, becak, dan disambung dengan berjalan kaki.

Kecewakah para wisatawan asing tadi? Sama sekali tidak. Justru mereka suka-cita. Jennifer, misalnya, mengaku amat menikmati tur yang dirasakannya memberikan keasyikan tersendiri itu. Akhir bulan lalu, Jennifer bersama rekannya, Ben, mengikuti Jakarta Hidden Tour. Dua pelancong asal Australia ini dibawa mengunjungi kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, terus ke Kampung Luar Batang di Jakarta Utara.

Jen dan Ben tanpa canggung berbaur dan berbincang dengan penduduk miskin di daerah tersebut. Mereka pun dengan ramah membalas setiap warga yang menyapa. Kedua bule Aussie itu merasa puas dengan tur tersebut. "Saya tidak ingin melihat sesuatu yang gemerlap saja. Saya ingin melihat bagaimana sisi lain kehidupan di Jakarta," kata Jen kepada Gatra, sembari menyeka keringatnya. Maklum, seharian ia terpapar sinar matahari yang cukup terik.

Adalah Ronny Porulian yang punya ide menyelenggarakan Jakarta Hidden Tour. Awalnya, seniman berusia 56 tahun ini berkenalan dengan Leonard Retel Helmrich, sutradara film kenamaan asal Belanda. Ronny banyak memandu Helmrich keliling Jakarta dalam rangka pengambilan gambar film dokumenter Eyes of The Day dan Shape of The Moon. Dua film ini menyabet penghargaan sebagai film dokumenter terbaik dalam International Documentary Film Amsterdam.

Helmrich rupanya terkesan dengan pengalamannya masuk-keluar kampung kumuh di Jakarta bersama Ronny. Ia pun menganjurkan agar Ronny menyelenggarakan acara wisata ke daerah kumuh tersebut. "Kenapa tidak kamu buat tur saja," kata Helmrich kepada Ronny. Ronny pun tertantang. Apalagi, paket wisata ini lain dari yang biasa. Bukan tur menikmati keindahan alam atau tamasya bersenang-senang. Melainkan, menurut istilah Ronny, berupa perjalanan sosial kemanusiaan.

Ronny lantas melakukan studi kelayakan dan akhirnya menyimpulkan bahwa wisata ke daerah slum itu dapat dilaksanakan. Ronny dibantu seorang relawan asing sebagai advisor. Ketika diluncurkan pada awal tahun lalu, paket wisata ala Ronny ini masih agak sulit menjaring pelanggan. Pasalnya, selain tak lazim, manajemennya juga amatiran. Tak punya badan hukum, tak pula ada struktur kerja, bahkan sampai kini. Semuanya nyaris ditangani oleh Ronny apa adanya.

Lewat penawaran di internet dan dibantu promosi dari mulut ke mulut, usaha itu akhirnya berjalan lancar. Pernah, dalam satu hari terjaring 36 peserta tur. Terpaksalah dipecah menjadi empat rombongan dan dibagi ke sejumlah lokasi. "Supaya interaksi dapat berlangsung efektif," kata Ronny kepada Rukmi Hapsari dari Gatra. Ronny membatasi pesertanya maksimal empat hingga enam orang saja per hari.

Adapun lokasi favoritnya meliputi Kampung Luar Batang (Jakarta Utara), pinggiran rel di Galur, Senen (Jakarta Pusat), Kampung Pulo, tepi Ciliwung (Jakarta Timur), dan Kampung Bandan dekat Kota Tua (Jakarta Barat). Di kawasan ini, umumnya masih terserak permukiman kumuh. Penduduknya miskin, dengan pekerjaan serabutan. Ada kuli, pemulung, tukang ojek, dan pemilik warung kecil-kecilan. Warga setempat yang dikunjungi rombongan turis asing itu selalu menyambut dengan antusias.

Maklumlah, mereka senang karena bisa berbincang dari dekat. Tentu dengan Ronny sebagai penerjemah. Lebih dari itu, para turis asing tadi selalu memberikan uang receh puluhan ribu rupiah. Ada pula turis yang memberikan sembako seperti beras, minyak goreng, dan mi instan. "Bantuan itu sangat berarti bagi kami," ujar warga bernama Yati. Yati dan warga lainnya berharap, kunjungan turis itu dapat terus berlangsung.

Para bocah pun demen atas kedatangan para turis tadi. Mereka mulai fasih berbahasa Inggris, setidaknya untuk sekadar menyapa si bule. Contohnya pada saat kunjungan Jen dan Ben di Kampung Luar Batang. Seorang bocah bernama Podang berteriak penuh semangat sembari melambaikan tangannya: "Hello Sir, what is your name? My name is Podang." Ben membalas ramah, "Hi, Podang." Podang pun tersenyum senang.

Berapa tarif per orang untuk menikmati "wisata kumuh" ini? Sebuah koran terbitan Ibu Kota menyebutkan, ongkosnya Rp 500.000-Rp 1,5 juta per orang. Tapi, menurut Ronny kepada Gatra, biayanya hanya Rp 200.000-Rp 500.000 per orang. Ia membantah tudingan bahwa dirinya mengeruk keuntungan. Menurut Ronny, separuh pendapatannya dikembalikan kepada warga yang dikunjungi sebagai bantuan untuk meringankan beban ekonomi.

Hampir setahun, paket wisata ini luput dari perhatian khalayak. Pertengahan bulan silam, berita seputar paket wisata ini menghiasi beberapa media cetak. Masyarakat pun terkaget-kaget. Reaksinya seragam: mengecam paket wisata yang dinilai melecehkan harga diri bangsa itu. "Tidak seharusnya kemiskinan diperdagangkan. Ini jelas praktek menjual bangsa sendiri," kata Wardah Hafidz, Ketua Konsorsium Masyarakat Miskin Kota.

Senada dengan Wardah, Marlo Sitompul, Ketua Umum Serikat Rakyat Miskin Indonesia, sangat menyesalkan paket wisata itu. "Jelas masalah kemiskinan tidak bisa ditutupi lagi. Namun tidak bisa juga dijadikan komoditas, terlebih kepada bangsa asing. Itu membuat hina bangsa kita sendiri," kata Marlo kepada Gandhi Achmad dari Gatra.

Ketua DPD Association of The Indonesia Tour and Travel Agencies DKI Jakarta, Herna P. Danuningrat, sampai geleng-geleng kepala. "Namanya wisata itu pasti untuk melihat yang dia kagumi. Lalu, apa yang dia (turis) kagumi dari daerah kumuh? Makanya, saya tidak mengerti. Tidak ada dalam kamus saya wisata kumuh itu," kata Herna, tak habis pikir.

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Selamat Nurdin, mencurigai ada maksud tertentu di balik kunjungan wisata ke daerah kumuh itu. "Saya khawatir, ini untuk mengorek kerak-kerak masalah di sini dan berujung menguntungkan negara lain. Bisa jadi, penyelenggaranya hanya dimanfaatkan," ujar Selamat. Ia menambahkan, kalau memang mau memberi bantuan kepada masyarakat miskin, sebaiknya lewat lembaga resmi, jangan orang per orang.

Atas segala kecaman itu, Ronny mengaku sedih. "Saya dapat memahami kalau banyak orang, termasuk pejabat dan politisi, salah paham terhadap Jakarta Hidden Tour," kata Ronny. Tapi ia menegaskan tidak akan mundur dari usahanya itu. Ia membandingkan dengan tayangan reality show yang mengeksploitasi kemiskinan, tapi menjadi tontotan menarik dan tak pernah dikecam.

Apa boleh buat, di negara berkembang seperti Indonesia, kemiskinan memang masih menjadi hal menggoda untuk dikomersialkan, bahkan dalam skala kecil sekalipun. Duh!
(Gt/Rbp)
 
     
 
mark-it indonesia
 
     
 
Anda ingin memasang banner? hubungi kami di : 021 - 6833 5800
 
 
   
BERITA SEBELUMNYA...
 
Rasyit Bagi-bagi Uang Pada Oknum Wartawan
Juminan Mengadakan Pungli di Simpang Pujud
Adjie Dilarang Kritik SBY
Aktivitas PT FSL Diduga Illegal
Bandar Kendalikan Narkoba Dari LP
 
     
 
Redaksi : Jl Jatinegara Barat No.181A Lt.3, Jakarta Timur 13310 - Phone 021 - 68335800 / Fax : 021-2800366
© 2010 radar.co.id . Gunakan browser dengan dukungan flash & java ketika mengunjungi web ini. Powered by MDevelopment v3.0