|
|
 |
|
 |
|
|
Lowongan Perwakilan Biro Radar |
| |
oleh : redaksi radar, Jakarta |
| |
Radar.co.id membuka lowongan untuk perwakilan Biro diseluruh Indonesia, dengan syarat :
a. Penga... |
| |
|
|
JUAL RUMAH DILEMBAH APARTEMEN |
| |
oleh : d triarso, JAKARTA PUSAT |
| |
DIJUAL :
Bekas Rumah Dinas dilembah / dikelilingi Apartemen Kemayoran. LT/LB 171/110, 2 KT, 1 Gudg,... |
| |
|
|
DELL A840 Vostro |
| |
oleh : win, Jakarta |
| |
Jual males make, DELL VOSTRO A840 dual core 1,86GB, HDD 120GB, RAM 3GB, VGA X3100 350MB, WIFI, Bluet... |
| |
|
|
|
 |
|
 |
|
|
 |
 |
 |
| |
koran-radar.com Hukum berita |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
Minggu, 22/08/2010 [12:22:38] |
|
| |
Terkait Pemberian Remisi |
|
| |
Pemerintah Tak Ingin Berantas Korupsi |
|
| |
[Jakarta] |
|
| |
|
|
| |
Keterangan Gambar : Ilustrasi |
|
| |
Jakarta, Radar Online
Ketua Masyarakat Profesional Madani, Ismed Hasan Putro menyatakan, elit pemerintah dan politik sebenarnya memang tidak punya niat untuk memberantas korupsi. Karena ada tekanan dari publik, menyebabkan pemerintah dan para elit tersebut memilih seolah-olah ingin melakukan pemberantasan korupsi dengan cara membangun citra."Oleh sebab itu, tak heran jika mereka terlihat marah jika ada keluarga, teman dan rekan separtai yang melakukan korupsi dan kemudian divonis menjadi terpidana, mereka marah dan berupaya membebaskannya dengan cara remisi dan grasi. Akan tetapi, mereka akan menjadi ganas jika yang korupsi adalah lawan politik. Inilah yang terjadi dalam kasus pemberian remisi dan grasi kepada para terpidana korupsi Auli Pohan Cs dan Syaukani HR," tandas Ismed saat dihubungi Kompas di Jakarta, Sabtu (21/8/2010) petang.
Menurut Ismed, dengan hanya membentuk citra belaka, maka elit pemerintah maupun politik tidak memiliki tekad khusus untuk memberikan efek jera terhadap para koruptor di Indonesia. Sebab, kalau elit pemerintah dan politik tidak tebang pilih, banyak yang diberikan remisi dan grasi. Kenyataannya, karena tidak ada kekuatan ekonomi dan hubungan politik, keinginan mereka dibebaskan tidak terwujud.
"Upaya membangun citra dalam pemberantasan korupsi itu terlihat dari cara pemerintah dan elit tidak mengalokasikan dana pemberantasan korupsi yang memadai bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka juga tidak terpikir untuk memperjuangkan penjara khusus bagi KPK," tambah Ismed.
Dikatakan Ismed, yang terjadi elit pemerintah dan politik justru mengkriminalisasikan pimpinan KPK dengan contoh kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah. Padahal, bukti-buktinya untuk mengkriminalisasi ternyata tidak ada yang dimiliki Kepolisian Negara RI dan Kejaksaan.
"Dengan pencitraan pemberantasan korupsi ini, pemerintah Presiden Yudhoyono sudah hampir sama dengan pemerintahan Orde Baru," kata Ismed. (Kp/Rbp) |
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
Anda ingin memasang banner? hubungi kami di : 021 - 6833 5800 |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
|